Rabu, 13 Mei 2009

BALIAK BELANJU KE DUSUN LAMAU


Oleh : Gusnan Mulyadi, SE. MM

Setiap manusia mempunyai cita-cita dan harapan begitu juga dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, cita-cita dan harapan tersebut sudah di tetapkan oleh para pendahulu pendiri kabupaten Bengkulu Selatan. Sesuai dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan adat istiadat serta kebiasaan maka cita-cita didirikannya kabupaten Bengkulu Selatan tergambar jelas dalam lambang daerah Kabupaten Bengkulu Selatan. Untuk menyegarkan kembali ingatan kita semua, berikut ini saya mencoba mengajak pembaca untuk kembali bersejarah “Belanju Kedusun Lamau” bagai mana cita-cita luhur pendiri Bengkulu Selatan ini .
Bintang bersudut lima, melambangkan ketuhanan yang maha esa sekaligus melambangkan pancasila. lambang lebah dengan sarangnya memiliki makna melambangkan bahwa rakyat Bengkulu Selatan dapat bekerja sama atau bergotong royong bagaikan lebah yang dipimpin ratunya dalam keikutsertaan membangun daerahnya. Keris dan rudus adalah melambangkan senjata untuk mempertahankan harga diri rakyat Bengkulu Selatan bila nilai-nilai kepribadian rakyat dilanggar sekaligus melambangkan sikap patriotisme rakyat Bengkulu Selatan. Cerana melambangkan bahwa Bengkulu Selatan mempunyai adat istiadat yang menghormati dan terhormat. Rakyat Bengkulu Selatan dalam tata pergaulan sehari-hari terhadap tamu dan teman sangat tinggi rasa cinta kasihnya. Dalam muamalat senantiasa diatur menurut adat dan sopan santun yang berlaku semenjak zaman nenek moyang. Kulintang adalah pelambang seni dan budaya rakyat Bengkulu Selatan dalam berbagai keperluan walima. Padi dan cengkeh yang memiliki arti sumber penghasilan rakyat Bengkulu Selatan yang terbesar di propinsi Bengkulu waktu itu. Untaian padi dan cengkeh, diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Bengkulu Selatan. Kemudian dari arti kiasan warna yang dipakai dalam lambang Bengkulu Selatan, hijau melambangkan bahwa Bengkulu Selatan adalah subur, pertanian dan cocok tanam merupakan usaha yang sangat potensial untuk mensejahterahkan rakyat. Kuning emas melambangkan harapan masa depan Bengkulu Selatan yang gemilang sekaligus melambangkan kemuliaan watak dan budi pekerti. Hitam melambangkan bahwa kemungkinan di balik potensi yang nyata masih banyak kekayaan alam di Bengkulu Selatan yang belum ditemukan dan memerlukan penelitian ilmiah untuk menunjang pembangunan daerah di Bengkulu Selatan. Merah melambangkan watak keberanian dan kepahlawanan rakyat Bengkulu Selatan.
Potensi tersebut sayangnya belum termanfaatkan secara optimal dan efektif, sehingga belum terwujud harapan atas kesejahteraan, kejayaan dan keluhuran hidup masyarakat Bengkulu Selatan. Saat ini sudah semakin menggema adanya tuntutan masyarakat akan tampilnya figur pimpinan yang benar-benar memahami potensi daerahnya dan mampu membawa Bengkulu Selatan pada terwujudnya cita-cita luhur tersebut.
Memang kalau kita cerna pemaparan akan cita-cita masyarakat Bengkulu selatan tersebut mungkin terlalu muluk untuk dicapai, terlalu indah untuk dibayangkan, anggapan tersebut mungkin benar apalagi selama ini cita-cita luhur tersebut bukanlah merupakan acuan dari para pemimpin untuk mengambil kebijaksanaan. Lambang segi lima yang melambangkan ketuhanan dan pancasila seolah-olah lenyap terkubur di telan modernisasi yang salah dimaknai, memang setiap masjid penuh dengan anak mengaji Iqra tapi tidak sedikit anak anak yang terjebak narkoba, sangat susah mencari anak yang menghormati gurunya. Setiap masjid selalu di ramaikan oleh jamaahnya tapi antara jamaah tetap saling bersaing tidak sehat dalam kehidupan, masih sangat banyak sekali pemeluk islam hanya paham agama tapi tidak memahami atau mendapatkan iman, pada saat hari juma’t masjid-masjid penuh dengan jamaah tapi mungkin sedikit sekali yang khusus merasakan kehadiran Allah saat sujudnya, pada bulan rahmadan setiap anak kecil orang tua diwajibkan puasa dan bila tidak puasa dianggap tidak beriman dan pengkhianat islam, tapi makna dan hakikat fitrah yang mau diraih tidak pernah di terlihat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang miskin tetap kelaparan sementara yang lain buncit kekenyangan, para petani menjerit mencari pupuk yang lain bergembira menumpuk dan monopoli pupuk, masyarakat menyerahkan amanah kepada pemimpin baik pemerintah maupun legislatif namun mereka selalu untuk mengkhianati amanah tersebut, rakyat diberikan hak dan kewenangan untuk memilih wakil dan pemimpin tapi dengan sangat menyedihkan mereka menjual hak dan masa depan dengan uang lebih kurang Rp. 100.000,-, jadi percuma saja puasa itu kalau tidak mendapatkan fitrah.
Gambar lebah dan sarangnya yang melambangkan sifat kebersamaan gotong royong dalam kebaikan, mengambil yang halal dan membuat yang terbaik, hilang sudah, kebersamaan berganti dengan sifat mau menang sendiri dan tidak peduli dengan sesama, gotong royong dalam kebaikan berganti korupsi berjamaah dan gotong-royong untuk melakukan kezaliman.Keris dan Rudus yang melambangkan keberanian dan patriotisme berganti menjadi berani membelah yang bayar dan berjuang hanya mau kalau dikasih uang. Cerana melambangkan bahwa Bengkulu Selatan mempunyai adat istiadat yang menghormati dan terhormat sudah berganti sebagai lambang untuk mengemiskan diri kepada penguasa dan lambang gila hormat bagi penguasa. Kulintang adalah pelambang seni sudah jauh panggang dari api, pemerintah sengaja tidak pernah mengajarkan kepada murid-murid sekolah bagai mana adat istiadat, diantara 100 anak belum tentu ada 2 yang bisa menari adat, seni dendang hanya milik mereka yang sudah tua dan dikampung saja, semboyan keciak benamau besar gelar (betutugh) lenyap sudah, banyak anak muda yang tidak tahu manau Wan, manau Pak Uncu, Manau Wak Manau Mamak.
Padi dan cengkeh yang memiliki arti sumber penghasilan rakyat, Untaian padi dan cengkeh, diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Bengkulu Selatan kini hanya menjadi harapan hampa. Padi tidak bisa diharapan menjadi sumber penghidupan lagi sementara cengkeh yang dulu bisa membuat orang jadi perlente kini para pemiliknya sudah banyak yang kere.
Kemudian dari arti kiasan warna yang dipakai dalam lambang Bengkulu Selatan, hijau melambangkan bahwa Bengkulu Selatan adalah subur, pertanian dan cocok tanam merupakan usaha yang sangat potensial untuk mensejahterahkan rakyat. Mungkin kiasan warna hijau ini belum luntur sebab potensi kekayaan terpendam Bengkulu Selatan tetap setia menunggu pinangan sang pangeran pengerak perubahan. Namun yang sangat kita sedihkan silih berganti pangeran menaiki tahta raja sekundang setungguan, mulai dari bupati Baksir sampai bupati Fauzan Jamil belum ada raja bijak dambaan rakyat yang kalah perala, sayang dan bijaksana, walau kita sendiri harus berani jujur memang sudah sangat banyak jasa pembangunan yang mereka tinggalkan, tapi kalau kita bandingkan dengan daerah lain yang seumuran atau yang baru pemekaran Kabupaten Bengkulu Selatan masih jauh ketinggalan. Para pemimpinan yang ada dalam kekuasaan, mpuak sekundang ndiak setungguan, lemak cuma ngiciak tapi ndiak lemak berasan, mpuak lemak berasan segau padu, mudah-mudahan kini di tangan Cartaker Bapak Gubernur Agusrin M. Najamudin akan ada perubahan yang diharapkan jangan pulau perubahan yang nyempitkan pikiran. Kita patut bangga dengan beberapa geberakan pembangunan yang sudah dilakukan Bapak Gubernur Agusrin, mudah-mudahan ini juga beliau lakukan untuk Bengkulu Selatan.
Dengan uraian singkat yang sangat sederhana ini saya tetap berharap kepada segenap rakyat Bengkulu Selatan, Pemerintah dan Legislatif (Anggota Dewan) agar kita semua kembali dapat membelokan arah bahtera tujuan pembangunan sesuai dengan cita-cita awal yaitu menuju dermaga kesejahteraan para penumpangnya yaitu rakyat Bengkulu Selatan yang sejahtera lahir dan bhatin. Apalagi kini sudah banyak ragam perubahan, lambang Kulitang yang melambangkan adat istiadat dalam kehidupan sudah bertambah dengan Tambur Padang dan Gamelan Jawa dengan tari indah Tor-tor Sumatera Utara, demikian juga soal agama yang berbeda jangan dijadikan penyebab untuk berbeda tapi jadikanlah penyebab untuk tenggang rasa berkerja sama untuk membangun daerah.
Jak di ulu ndak ke Mannak, Jalan melintas bukit barisan, La rindu kami ngan adiak-sanak, Jadi terobati dengan tulisan. (Penulis Alumni FE UNIB silahkan baca di www.gusnan-mulyadi.blogspot.com)

2 komentar:

  1. bukan pak bakip yang be foto betgau tu dang???

    BalasHapus
  2. cocok jd duta kesenian bengkulu selatan,hehe..
    aq mpai keruan artiaw tu setelah baca di blog mu ni.tks

    BalasHapus