
Beberapa waktu yang lalu saya sangat kagum saat membaca majalah SWA yang mengupas tentang PT. PLN Batam. Dari sanalah saya tahu bahwa PT. PLN Batam itu adalah perusahaan mandiri yang terlepas dari manajemen PLN Pusat. “PT. PLN Batam Raih ISO 9001: Sertifikat ISO 900:2000 itu sendiri adalah sebuah sertifikasi standar manajemen mutu yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi Internasional untuk standar mutu. Sertifikasi ISO 9001:2000 diberikan kepada perusahaan atau lembaga yang sudah melakukan standarisasi mutu, sesuai dengan standar pelayanan mutu yang diakui secara Internasional. sehingga pelanggan semakin puas dengan pelayanan yang diberikan oleh PLN Batam” di kutip dari (www.plnbatam.com). Dari kutipan tersebut tampak jelas bahwa standarisasi pelayanan PLN Batam sudah standar internasinal. Keberhasilan PLN Batam ini juga merupakan kerja keras Pemda Kota Batam berkerja sama dengan PLN Batam. PT. PLN Batam bukan hanya satu-satunya PLN mandiri di Indonesia.
Namun di sisi lain, hati saya sangat sedih karena hampir setiap hari di Harian Rakyat Bengkulu, Bengkulu Ekpress, Radar Selatan dan jaringan internet www.facebook.com, Yahoo! Messenger, masyarakat dari tanah kelahiranku Bengkulu Selatan mengeluh karena listrik selalu mati. Bermacam-macam keluhan, mulai dari ungkapan rasa kesal sampai cacian dan makian. Saya sendiri dapat merasakan betapa sakitnya masyarakat, apa lagi saat ini anak-anak sekolah sedang menghadapi ujian nasional dan sebentar lagi UAS. Masa depan anak-anak kita terkorbankan karena listrik mati. Kalau kita sendiri selaku orang tua sudah tidak peduli dengan masa depan anak-anak ini, lantas bagaimana nasib negeri kita ini, bagaimana nasib kita sendiri, bukankah kita butuh anak-anak kita di hari tua kita?.
Kalau melihat dua permasalahan di atas tadi lantas pertanyaan kita “apakah bisa listrik Bengkulu Selatan seperti Batam ?”. Tentu jawabnya TIDAK BISA kalau sama persis sebab ruang dan waktu yang berbeda, di Batam banyak industri dan Batam bisa menjual listrik ke negara tetangga Singapore dan Malaysia, namun Bengkulu Selatan pun bisa listriknya normal dan mandiri disisi kepembangkitan apabila dikelola dengan serius dan ditangan orang yang berilmu. Nah sekarang pertanyaan kita ; Bagaimana cara mengelolanya? Apa ilmunya ?. Memang benar daging sapi yang kwalitas terbaik tidak akan mungkin bisa menjadi rendang yang lezat bila tidak di olah dengan resep terbaik dan koki yang terbaik, itu sudah pasti. Untuk mengelola kelistrikan daerah tentu juga begitu.
Bagaimana cara mengelolanya?. Khususnya untuk energi listrik di Bengkulu Selatan ini yang harus mengelolanya adalah Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan bersama-sama dengan PLN Bengkulu Selatan (seperti Batam). Caranya duduk bersama dan harus ada saling keterbukaan serta tidak boleh saling menyalahkan. Benar secara hak dan kewewenangan PLN yang punya namun yang membutuhkan listrik itu adalah masyarakat Bengkulu Selatan, jadi Pemkab Bengkulu Selatan juga harus bertanggung jawab terhadap kebutuhan masyarakat ini. Antara Pemerintah dan PLN jangan saling lempar tanggungjawab kasihan rakyat yang terkorbankan. Sekali lagi cara mengelolanya adalah dengan kerja sama saling keterbukaan bukan saling menyalahkan.
Apa ilmunya ? Memang benar bagi mereka yang tidak menguasai permasalahan dan ilmu untuk mengatasinya akan menjadi bingung, wajar orang tidak mengerti pasti bingung. Begitu juga dengan pengalaman yang lalu saat saja mengusung program normalisasi listrik paling lambat 90 hari. Hampir semua orang mencemooh saya, tidak mungkin, tidak mengerti perencanaan, dari mana dapat uangnya, omong kosong, anak kecil, jangan mau dibohongi, menipu masyarakat, itulah kata-kata yang di alamatkan kepada saya. Saya selalu tersenyum bila mendengar cemoohan itu, saya cuma berkata dalam hati “saudaraku engkau belum tahu ilmunya maka engkau berprasangka buruk, aku maklum”. Kalau pun seandainya saat itu ada orang yang bijaksana tentu bukan cemoohan yang di sampaikan, saya akan sangat senang bila mereka mengeritik sehat dan berdialog dengan ku, bukan hanya berkata dari jauh, bagaimana caranya kalau memang itu bisa, pasti saya akan membantu pemerintah untuk mewujudkannya, tapi saya tidak berkecil hati walau sampai saat ini masih banyak orang yang masih berfikiran negatif atas ide saya untuk mengatasi krisis listrik ini, sudah berganti Bupati krisis listrik belum juga terselesaikan, sementara uang rakyat dalam bentuk APBD tidak kurang dari Rp. 400 M. Kalaupun mereka punya niat dan saya pasti membantu maka listrik Bengkulu Selatan pasti sudah normal sekitar bulan Pebruari kemarin. (maaf saya tidak kecewa karena tidak terpilih, tapi saya sedih Pemda mengeluarkan uang Rp. 5 s/d 6 M saja tidak mau demi untuk kepentingan masyarakat / rakyat yang dia pimpin).
Untuk mengatasi krisis listrik di Bengkulu Selatan tentu ada ilmu dan caranya. Jangka Pendek; Masyarakat sesungguhnya sudah lelah menunggu listrik normal, maka tidak ada pilihan, kita harus mencari cara untuk mengatasi krisis listrik ini dan dalam jangka waktu pendek ini listrik harus sudah normal. Satu-satunya jalan untuk jangka pendek kita harus mendatangkan pembangkit listrik tenaga Deisel (genset). Kalau kita anggap bahwa kekurangan khusus Bengkulu Selatan saja sekitar 2.500 Kwh, maka kita butuh 6 unit genset dengan kapasitas 500 Kwh. Sedangkan harga 1 unit genset 500 Kwh itu berkisar paling mahal Rp. 1 M jadi untuk 6 unit genset menjadi Rp. 6 M. Harga yang sangat murah bila kita bandingkan dengan kerugian moril dan materil seluruh masyarakat Bengkulu Selatan dengan listrik selalu mati, apalagi kalau kita konversikan dengan kerugian akan masa depan anak-anak kita yang butuh listrik untuk belajar malam. Saya secara pribadi bisa membantu Pemerintah Bengkulu Selatan dengan memberikan hutangan, silahkan bayar 50 % dulu dan sisanya bayar kemudian. (hehehe.... maaf bukan promosi tapi ini untuk Bengkulu Selatan tercinta sebab aku ndiak pacak ngejuak kain pelikat dan jilbab apaulagi tanci politik, cuma luak ini carau aku nolong adiak sanak). Saya secara pribadi sangat meragukan kemampuan genset dari Tugu Mulyo Linggau yang memang dialokasikan PLN Palembang untuk Bengkulu Selatan itu, sebab itu unit sudah sangat tua, pasti jalanautu la bungkuak. (Ops...jangan tersinggung).
Jangka Menengah ; untuk solusi jangka menengah salah satu pilihan yang tepat adalah membantu dan memberikan kemudahan kepada pihak PLN untuk membangun jaringan SUTET antara Manna - Lahat/Pagar Alam, sehingga nantinya listrik Kabupaten Bengkulu Selatan dan sekitarnya sudah masuk jaringan terpadu interkoneksi sumatera. Disamping itu, kita harus mendukung percepatan pembangunan PLTMH di Air Nipis yang katanya sudah mulai di bangun itu.
Jangka Panjang ; Pemerintah Bengkulu Selatan harus berfikir bahwa Bengkulu Selatan harus bisa mandiri secara energi kelistrikan. Memang pertanyaannya mengapa harus mandiri dan apakah itu bisa ?. `Ada beberapa syarat untuk menuju kemajuan suatu daerah antara lain ; 1). Sumber Daya Manusia yang maju dan trampil tersedia, ini bisa dididik dan dilatih. 2). Pelabuhan laut dan udara yang mendukung – Bandara Fatmawati Sukarno dan Pulau Baai Bengkulu 3). Sarana transportasi darat yang murah (Rail Way/Kereta Api) sementara bisa menggunakan truck. 4). Power plant (electric) sumber pembangkit listrik, belum ada. Kalau kita melihat beberapa persyaratan mendasar untuk memajukan suatu daerah di atas tadi maka tidak ada tawar-menawar bahwa pembangkit listrik yang tersedia harus mendukung. Kalau kita lihat kenyataan sekarang maka Bengkulu Selatan jauh panggang dari api, listrik untuk kebutuhan rumah tangga saja tidak cukup apalagi untuk industri. Contoh kecil kita ambil, seandainya kita mau membuat produksi perikanan pasar bawah dan sekitarnya meningkat, kita akan terkendala dengan tidak tersedianya cool storage dan tidak akan bisa membangun cool storage bila listrik tidak ada. Satu lagi bila kita ingin meningkatkan pengahasilan petani padi, tentu kita harus membangun sebuah Rice Milling Unit (RMU) yang modern di mana pada RMU tersebut harus ada dryer dan langsung mesin packaging, untuk itu diperlukan listrik yang cukup besar. Sekali lagi tidak akan maju suatu daerah bila power plant –nya tidak mendukung. Inilah salah satu alasan bahwa Bengkulu Selatan harus bisa mandiri di bidang sumber daya energi kelistrikan ini.
Pertanyaan berikutnya apakah bisa ?. Jawabannya pasti bisa. Bengkulu Selatan mempunyai beberapa sumber energi antara lain air terjun, saya sendiri sudah melihat langsung sumber tersebut salah satunya yaitu air terjun Simpur Ulu Manna, dan beberapa sumber air di kecamatan Air Nipis dan Kecamatan Kedurang Ulu, semua air terjun tersebut bisa di ubah menjadi energi listrik. Bahkan kalau Bendungan Air Nipis itu dikelola dengan baik sehingga air yang masuk dan mengalir melalui saluran primer itu tetap stabil maka setiap terjunan itu bisa di ubah menjadi listrik tanpa mengurangi debit air untuk persawahan dengan menggunakan turbine jenis propeller. Saya sudah hitung setiap terjunan primer itu bisa mencapai tinggi 2 s/d 3 m’head-nya, dengan debit air sekitas 2 m3 perdetik bisa menghasilkan daya di atas 50 Kwh, nah kalau kita bisa manfaatkan 10 titik saja berarti kita sudah mempunyai listrik 500 Kwh yang sangat murah karena bersumber dari air. Kita juga mempunyai sekam / dedak padi yang juga bisa di ubah menjadi energi. Jadi bila ditangan seorang yang berilmu maka Bengkulu Selatan kedepan akan bisa menjadi daerah yang mandiri dengan listrik bahkan bisa menjual listrik ke PLN.
Para pembaca yang budiman itu hanya mimpi indah seorang Gusnan yang tentunya sangat sulit untuk diwujudkan karena bukan saya yang mengambil kebijaksanaan, sebab pada tahun 2002 masih saat Bupati Iskandar Dayok saya sempat mengirim surat permohonan kerjasama pembangunan PLTMH sungai Luas di kaur dengan daya 15 s/d 20 Mwh (sebelum Kaur menjadi Kabupten), dengan investasi murni konsorsium dari Guna Elektro Group dan dana sudah di siapkan sebesar Rp. 200 M, namun sampai saat tulisan ini saya tulis tidak pernah ada jawaban tertulis dari Pemkab Bengkulu Selatan dan saya hanya satu kali di telepon oleh seorang Pejabat Bengkulu Selatan waktu itu, sehingga Guna Elektro memindah investasinya dengan membangun PLTB (Wind Turbine) Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin di Pulau Ende. Melalui tulisan ini saya sampaikan bahwa saya siap membantu tenaga dan fikiran bila pihak Pemkab Bengkulu Selatan membutuhkannya untuk turut mengatasi krisis listrik yang sudah sangat meresakan masyarakat Bengkulu Selatan ini. Yang pasti dewa petir tak mungkin datang menerangi Bengkulu Selatan, hanya kitalah yang bisa merubah nasib kita. (Sudah pernah di terbitkan pada harian radar selatan ;penulis alumni FE Universitas Bengkulu).
