Senin, 08 Juni 2009

MERUBAH PARA PETANI MENJADI PENGUSAHA



Oleh : Gusnan Mulyadi, SE. MM

Ada perbedaan mendasar antara Singapura dengan negara kita, kalau di negara kita banyak petani dan penganggurannya sedangkan di Singapura hampir sebagaian besar menjadi pengusaha. Dalam sejarah islam disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang saudagar atau pengusaha, mulai dari kecil beliau sudah menjadi pedagang dan kemudian menikah dengan seorang pengusaha kaya yang bernama Khadijah. Nah...pertanyaannya kenapa ditengah masyarakat kita sangat sedikit sekali yang berminat menjadi pengusaha, anak muda cenderung untuk menjadi PNS dan orang tuanya siap mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta yang penting anaknya bisa menjadi PNS. Penomena yang terjadi ini tidak terlepas dari peran pemerintah yang tidak pernah mendidik masyarakatnya untuk menjadi pengusaha, mereka dididik untuk menjadi petani desa yang selalu pasrah dengan keadaan yang ada. Para pembaca pasti berkata, He... Gusnan hanya pandai berkata-kata, kalau memang ada jalan keluarnya mari kasih tahu bagai mana caranya....?.
Saya pernah bermimpi dan saya sudah ceritakan dengan masyarakat Bengkulu Selatan. Saya bermimpi untuk membuat BPR (Bank Pengkreditan Rakyat) dan BUMD untukmenjadi lokomotif pembangunan ekonomi kerakyatan di Bengkulu Selatan. Tentu pertanyaan bagi mereka yang belum paham “Apa bisa ?” . Saya jawab pasti bisa bila kita mau dan tahu caranya (tahu ilmunya). Kalau kita belajar dengan keberhasilan Malaysia meningkatkan ekonomi rakyatnya, tentu ada beberapa hal yang dapat kita contoh. Salah satunya tidak lepas dari peran Bank Pertanian yang memberikan kredit khusus kepada para petani dengan persyaratan yang sangat mudah.
Petani kita tentu mau menjadi petani yang modern dan bertani dengan sistem usaha bukan bertani tradisional saja. Mereka mau mengelola lahannya dengan alat modern, pupuk dan bibit serta obat-obat pertanian yang tersediah, namun hal yang sangat membatasi mereka adalah keterbatasan modal. Disinilah kita harapkan peran penting BPR itu, yaitu memberikan kredit modal kerja kepada para petani tanpa agunan . Kaum yang berfikir fesimis pasti bertanya dalam hati “Mana mungkin bisa sukses ? sedangkan pakai agunan saja tidak kembali apalagi tanpa agunan”. Memang sudah sangat banyak contoh bantuan pemerintah dan kredit lunak dari pemerintah gagal, penyebab utama kegagalan ini adalah pengelolaan setengah hati antara pemerintah dan swasta. Kita bisa lihat sangat banyak sekali BPR yang berkembang pesat karena dikelola oleh orang yang profesional. Disisi lain kita harus berdayakan BUMD untuk mendukung progran tersebut. Peran BUMD disini mulai dari menyediakan fasilitas produksi, sampai pengelolaan pasca panen serta pemasaran. BUMD bisa menjadi penyeimbang harga sehingga pada saat penen harga tidak anjlok karena permainan tengkulak.
Sekarang timbul pertanyaan “bagaimana sistem kerjanya agar program tersebut bisa jalan sesuai rencana dan harapan ?. Untuk lebih jelasnya saya akan mencoba menerangkan secara singkat skim kerja sama antara petani, BPR dan BUMD. Katakanlah petani pemilik lahan mempunyai niat untuk mengelola lahannya dengan menanam jagung, namun petani tidak memiliki modal untuk membeli bibit, pupuk dan upah mengelola tanah. Petani pemilik lahan mengajukan permohonan kredit modal kerja kepada BPR dan pihak BPR mengecek kebenaran kepemilikan lahan dan administrasi lainnya, kemudian BPR memerintah BUMD untuk memberikan bibit, pupuk, obat-obat pertanian dan memerintahkan BUMD atau pengusaha penyewa hand traktor untuk mengelola lahan. Jadi dalam kerja sama ini petani tidak diberikan uang tetapi diberikan keperluan untuk berkebun jagung. Petani hanya mendapat nota barang yang bisa ditukar atau di ambil di BUMD atau toko yang sudah ditunjuk oleh BPR. Petani membayar kredit modal kerja tersebut setelah panen tiba. Hasil panen petani bisa dijual ke BUMD atau ke pembeli lain yang harganya lebih menguntungkan. Bila petani tidak serius menggarap lahannya maka BPR berkerja sama dengan BUMD berhak untuk mengambil alih usaha tersebut untuk di teruskan sampai panen kemudian hasil penjualan yang sudah dipotong dengan kredit modal kerja serta biaya pengelolaan dikembalikan kepada petani.
Dengan cara yang sangat sederhana tersebut, tentunya petani sangat terbantu sehingga petani bisa menggarap lahan-lahan yang selama ini masih banyak terbengkalai hanya dengan modal tekad dan semangat yang kuat. Secara bertahap pola bertani tradisional akan mulai bergeser atau berganti menjadi bertani dengan pola agribisnis. Selama ini kita belum pernah melihat terobosan-terobosan pemerintah disisi permodalan dan pemasaran, yang ada hanya berkutak-katik dengan bantuan pupuk gratis, bantuan bibit gratis, saat panen harga anjlok sebelum panen harga selangit. Sesungguhnya yang dibutuhkan petani itu adalah kepastian, kepastian modal usaha (bibit, pupuk, obat-obat) yang selalu tersediah, kepastian harga yang menguntungkan petani. Selama ini pemerintah belum pernah mencoba terutama memberikan kepastian pasar/harga akan produk hasil pertanian, petani di suruh menanam sebanyak mungkin setelah panen dilepas begitu saja, sehingga adakalanya setelah panen malah rugi secara ekonomis.
BUMD sebagai badan usaha milik pemerintah daerah harus bisa didesign untuk menjadi lokomotif pembangunan disisi agribisnis ini, walau tidak luput dengan motif bisnis yaitu mencari untung tapi BUMD harus bisa berperan membuat jaringan pasar untuk produk unggulan petani, menyediakan pupuk dan alat serta sarana pertanian yang harganya wajar dan terjangkau, mencari inovasi untuk memberikan nilai tambah kepada produk yang sudah ada misalnya jagung dibuat pakan ternak atau yang lainnya, memasarkan produk yang belum laku di pasar lokal, seperti belut (pelus), bipang kedurang, kerajinan batu hias, pengelolaan beras kemasan yang bermerk, dan yang lainnya.
Para pembaca yang budiman dalam tulisan singkat ini saya hanya mencoba memberikan inspirasi bagi para pemimpin sebagai bahan untuk mencari ide mengenai persoalan mendasar para petani dan bagaimana cara membantunya, memang kita sadari disamping persoalan di atas masih banyak lagi persoalan yang ada diantaranya semakin sempitnya lahan pertanian dibanding dengan pertambahan penduduk, jalan-jalan produksi yang sangat buruk bahkan tidak ada, irigasi yang tidak berfungsi secara baik. Semoga pemerintah dapat mencari alternatif-alternatif baru yang bisa mengatasi permasalahan para petani ini. Silahkan kunjungi www.gusnan-mulyadi.blogspot. com. (penulis adalah alumi FE UNIB).

3 komentar:

  1. Ndiak kenal mangku ndiak cinta, ndiak cinta mangku ndiak sayang.....ndiak sayang mangku ndiak ka saling pikir ka.....ndiak saling pikir ka mangku ndiak ka saling tulung....

    Aku Suptin Haryadi, asal jakdi Darat Sawah Seginim....mbak ini lagi ndalak rejeki di Serang, Banten....

    Ide-ide memajukan ekonomi rakyat disana dengan mendorong pengembangan pertanian sangatlah cocok karena sebagian besar masyarakatnya memang hidup dari pertanian, yang didukung oleh potensi alam yang menurut saya luar biasa bagus. Menurut saya, peran pemerintah sangat diharapkan disini. Pengembangan sektor pertanian harus di garap dari hulu sampai hilir. Dukungan sarana dan prasarana sangat dibutuhkan. Tidak hanya modal kerja tapi juga ilmu pngetahuan dan teknologi untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas, serta pengembangan pasar atau penetrasi pasar baik skala lokal, regional, maupun global. Pasar ini sangatlah penting karena semua produk pertanian akan bermuara kesini.
    Hanya contoh kecil saja, lamanya jarak tempuh antara sentra pertanian di Bengkulu Selatan dengan pasar yang ada di kota besar seperti Palembang, Medan, dan Jakarta akan menyulitkan pemasaran hasil-hasil pertanian yang ada di Bengkulu Selatan. Yang akhirnya hasil pertanian akan menumpuk di pasar lokal sana. Dengan begitu maka hukum pasar yang akan berjalan.
    Waktu pulang ke sana, saya sempat mendengar keluhan beberapa petani ikan kolam air deras bahwa mereka terpaksa menjual hasil panen mereka dengan tempo pembayaran kadang lebih dari satu bulan. Hal ini akan sangat merugikan para petani. Padahal, di kecamatan Seginim Darat Sawah dan Air Nipis, potensi untuk pengembangan di sektor perikanan ini sangatlah besar, lahan sawah yang luas didukung oleh pengairan yang bagus sepanjang tahun.
    Karena itu, pemerintah perlu membantu para petani untuk mendapatkan akses ke pasar-pasar yang lebih luas, mungkin dengan memperpendek waktu tempuh ke pasar-pasar besar ataupun meningkatkan daya tahan hidup ikan menuju pasar-pasar besar tersebut.
    Selain masalah pasar, pemerintah perlu mendorong 'product differtiation' karena kalau saya amati yang digarap oleh para petani ikan disana hampir semua sama jenis ikannya (ikan mas, ikan lele, atau ikan nila). Para petani masih banyak yang belum tahu bagaimana cara atau ikan apa yang secara ekonomis lebih tinggi nilainya. Kalau kita lihat seperti di Kalimantan ada petambak ikan Arwana yang harganya jutaan bahkan puluhan juta per ekor. Padahal kalau pernah berkunjung kesana, air yang ada di Bengkulu Selatan jauh-jauh lebih bagus dari air yang ada di Kalimantan sana dan lahan kita jauh lebih baik dan lebih luas. Kalimantan hanyalah rawa dan perbukitan yang sudah gundul.

    Sekian dulu.....kalau ada yang kurang pas mohon dimaklumi karena baru belajar menulis....

    BalasHapus
  2. terima kasih atas diskusinya. saya sangat senang ada kawan berdiskusi...benar adanya bahwa yang utama adalah pasar, namun khusus Pemkab Bengkulu Selatan belum ada yang mengerti dan peduli dengan pasar ini, belum pernah ada program pemKab utk membuat jaring pasar baik nasional apalagi regional. Sehingga pasar haril pertanian Bengkulu Seltan di monopoli oleh tengkulak atau segeintir orang saja. Hal ini meneyebabkan ketimpangan ekonomi "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin".
    Kita generasi muda berharap kita nantinya dapat berbuat dan meruba tatatan pasar yang ada saat ini, saya pribadi pernah menjajaki pasar Cabe sampai ke Singapure dan saat itu mereka minta 7 ton/day....kita tidak sanggup memenuhi qouta...sedang utk cargo saya mempunyai hubungan baik dengan beberapa Airlines...Tapi kalau pola pertanian kita masih seperti ini sangat sulit menembus pasar Export....

    Wass Gusnan Gundul

    BalasHapus

  3. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus