
Merubah Hambatan Menjadi Modal Dasar Pembangunan
Oleh : Gusnan Mulyadi, SE. MM
Dari beberapa hasil diskusi saya dengan beberapa kalangan masyarakat Bengkulu Selatan baik di Bengkulu Selatan sendiri maupun yang di rantau, baik dengan tatap muka maupun melalui internet , ada beberapa ungkapan pertanyaan yang mereka sampaikan kepada ku tentang layak tidaknya seseorang menjadi pemimpin di Bengkulu Selatan. Jangan jadi bupati Bengkulu Selatan kalau tidak mampu kasian rakyat kata mereka, (sehubungan dengan PILKADA ulang nantinya). Beberapa ungkapan itu antara lain ; 1). Mengertikah mereka calon pemimpin dengan permasalahan di Bengkulu Selatan, 2). Bagai mana cara mengatasinya. 3). Kapan memulai mengatasinya. Saya sangat terhenyak dengan beberapa pertanyaan kritis namun sangat tepat ini, lantas saya berfikir dan mengarahkan pertanyaan itu kepada saya sendiri, jangan-jangan saya belum layak untuk menjadi pemimpin apalagi mengingat umur biologis saya masih muda yaitu 40 tahun (maaf! kalau umur psychologist di ukur dari kemampuan nalar, pengalaman dan pengedalian diri belum tentu yang tua bisa mengalahkan yg muda...hehehehe). Nah saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan itu dengan beberapa pencaharian yang akan saya coba jelaskan di sini.
Pertama ; Permasalahan yang sangat mendesak dan sudah meresahkan masyarakat di Bengkulu Selatan ini antara lain : 1). Krisis Litrik, BBM, Pupuk. 2). Sumber mata pencaharian atau pengangguran yang sangat banyak. 3). Berlarinya sumber ekonomi atau modal keluar daerah karena tidak ada pabrik sawit. 4). Rendahnya mutu pendidikan sehingga banyak lulusan yang jadi pengangguran. 5). Belum di manfaatkannya laut sebagai sumber ekonomi Bengkulu Selatan dan masih banyak lagi masalah yang lainnya.
Kedua ; Untuk mengatasi atau menyelesaikan permasalahan di atas tentu dibutuhkan langka nyata yang bukan Cuma kata-kata wacana dan teori belaka (kritikan kawan2 di internet “Gundul jangan cuma ngiciak tapi buktikan”....hehehe). Pada tulisan ini saya mncoba menguraikan langkah dasar yang wajib sudah dimiliki calon pemimpin Bengkulu Selatan untuk mengatasi masalah tersebut. 1). Krisis listrik sebenarnya saya siap membatu mulai dari tahun kemarin bahkan saya sudah dua kali menulis pada harian ini bagai mana mngatasi krisis ini. Saya pada hari....tanggal.... yang lalu kembali membuat kesepakatan dengan PT. Tehnik Unggul (Irwandi) hitam di atas putih bermaterai 6.000 menyatakan mereka siap menyuplai genset baru sesuai dengan kebutuhan Bengkulu Selatan paling lambat 30 hari kerja sejak diterima pesanan (saya di bawa ke pabrik mereka di Balaraja Tangerang), bahkan sekarangpun mereka siap kalau Pemkab siap berkerja sama. Kalau soal krisis BBM saya sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan Dirwan Mahmud, bila beliau dilantik maka kawan saya sudah siap dengan dana segar untuk investasi SPBU di Bengkulu Selatan demi mengatasi krisis BBM, beliau sepakat dan menunggu beliau di lantik (smoga beliau dilantik amin). Kenapa harus menunggu Dirwan dilantik karena investor minta jaminan keamanan investasi mereka. Soal pupuk saya sudah pernah menulis di harian Rasel tercinta ini dan saya sudah diskusikan dengan kawan-kawan di PUSRI Bengkulu, mereka siap bantu.
Masalah ke 3). Menciptakan sumber mata pencaharian atau lapangan kerja, ini nampaknya salah satu masalah yang tak kunjung pernah ditangani dengan serius oleh pemerintah kita baik dari tingkat pusat, tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (kecuali penerimaan PNS...hehehe). Banyaknya pengangguran merupakan tantangan yang sangat berat bagi seorang pemimpin kedepan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi seorang pemimpin kedepan harus bisa mengatasi dan menyelesaikan masalah ini, kalau tidak bisa mencari jalan keluarnya kata para pengkritik saya belum layak menjadi pemimpin (kata mereka “Gundul mundur saja dari calon kalau tidak punya solusi mengatasi pengangguran” tegalau kritikan mereka tapi mereka benar). Saya sangat setuju dengan kritikan itu, seorang pemimpin masa depan harus bisa “Merubah Hambatan dan Tantangan Menjadi Peluang”. Pada program utama di dalam visi dan misi saya kemarin ada satu point yang memuat penanganan pengangguran dengan membuka peluang kerja keluar negeri. Pangsa pasar tenaga kerja diluar negeri ini sangat besar sekali asal kita bisa mengaksesnya. Seperti negara Syiriah, Saudi Arabia, Kwait, Jordan, Australia, Malaysia. Taiwan, Korea dan Jepang. Sedangkan bidang kerja yang tersedia disana antara lain pembantu rumah tangga, sopir, perawat kesehatan, tukang las, teknologi tinggi /IT, tukang bangunan, pertanian, tukang jahit, tukang masak dan accounting. Namun tidaklah segampang membalikan telapak tangan untuk melakukan semua ini, sebab ada beberapa persyaratan penting yang harus ada yaitu ; 1). Pemimpin pemerintah harus mempunyai hubungan baik dengan beberapa PJKTI baik dalam maupun luar negeri. 2). Calon TKI harus mempunyai keterampilan/skill dan menguasai bahasa, Arab, Inggris, Mandarin, Korea, Jepang (ini bisa dididik dan dilatih). Saya sudah mempelajari sistem dan seluk beluk pengiriman TKI ini dengan seorang sahabat saya direktur utama sebuah perusahaan PJTKI terbesar indonesia dan kami sudah membuat sebuah rencana pembangunan TKI CENTER di Bengkulu Selatan yang akan melayani pengiriman TKI ini untuk wilayah propinsi Bengkulu dan sekitarnya (ini bisa dilaksanakan oleh pemerintah sekarang saya siap menjadi konsultannya....). Sebagai gambaran gaji pemanen Anggur di Australia tidak kurang dari Rp. 75.000 jam kalau 8 jam kerja berarti Rp. 750.000,- perhari atau Rp. 22.500.000,- perbulan ini tenaga kerja yang tidak terampil. Saya akan uraikan secara gamblang bagai mana soal tenaga kerja ini pada tulisan berikutnya.
Persoalan ke 3) yaitu larinya modal atau keuntungan ke luar daerah terutama penjualan TBS (sawit) yang setiap hari sampai ratusan truk. Dalam kasus ini petani sawit sangat dirugikan sekaligus merugikan ekonomi daerah. Kalau kita beransumsi bahwa setiap hari ada 100 truk dengan beban 7.000 kg/truk dengan selisih harga 300 rupiah antara harga Bengkulu Selatan dengan pembeli luar daerah maka dalam satu bulan petani dan daerah sudah dirugikan 100 truk X 7.000 kg X Rp. 300 X 30 hari = Rp. 6.300.000.000 kalau satu tahun berarti Rp. 75.600.000.000 ,- sungguh luar biasa. Sedangkan untuk membangun sebuah pabrik sawit (PKS) dengan kapasitas 30 ton perjam diperlukan lebih kurang biaya investasi Rp. 50 M sedangkan kerugian kita adalah Rp. 75,6 M pertahun, jadi bila kita membangun sendiri maka satu tahun pertama berarti secara ekonomi daerah sudah di untungkan Rp. 25,6 M. Nah kenapa kita tidak bangun sendiri ?. Saya tentunya tidak mau dituduh Pemimpin yang tidak punya kemampuan dan tidak punya konsep dan rencana yang jelas dalam memimpin seadainya ada amanah itu, maka saya sudah menjajaki dengan kawan-kawan saya baik pengusah di Jakarta maupun dari Malaysia untuk pembangunan PKS ini. Mereka sangat siap untuk investasi dengan persyaratan pemerintah bisa berkerja sama dengan baik dan keamanan investasi mereka terjamin. Pengalaman saya selama ini dengan membawah calon investor terhambat dengan para pemimpin yang ingin segera mendapat keuntungan pribadi dan ketidak mengertian pihak pemerintah terhadap dunia bisnis ini, hal inilah salah satu penyebab utama para investor menjadi mundur. Nah pemimpin Bengkulu Selatan kedepan harus bisa membangun PKS ini demi untuk peningkatan ekonomi daerah (siapapun yang memimpin saya siap untuk membantu mewujudkannya).
Masalah ke 4). Mutu lulusan pendidikan yang rendah menyebabkan pengangguran. Pembangunan TKI Center yang kita rancang itu mulai dari Medical Check, Balai Latihan Kerja, Ansuransi, Asrama dan sarana olah raga. Nah bila TKI Center ini sudah terwujud maka otomatis bisa menjadi pusat pendidikan yang bisa memberikan ilmu dan keterampilan yang tidak di dapat di bangku sekolah. TKI Center yang kita bangun itu akan berkerja sama dengan pihak swasta sehingga pendanaanpun akan lebih banyak di tanggung oleh pihak swasta mitra kita, bahkan TKI center dan pengiriman ini nantinya akan menjadi sumber PAD cukup besar untuk Bengkulu Selatan.
Selajutnya ke 5). Laut lepas Bengkulu Selatan sangat banyak menganduk sumber daya ekonomi mulai dari Minyak bumi (cekungan Bengkulu) dan kekayaan laut berupa ikan, udang , rumput laut dal lain2nya. Sumber daya ekonomi yang dari laut ini sampai saat ini belum pernah tergarap dengan maksimal. Kendala utama yaitu tidak adanya pelabuhan nelayan yang memadai untuk berlabuhnya kapal nelayan skala menengah dan besar. Ada dua pilihan untuk membangun pelabuhan nelayan ini yaitu Muara Pasar Bawah dan Muara Air Pino. Saya ingat beberapa tahun yang lalu ada pengusaha dari Kuala Lumpur Malaysia melalui sahabat saya Lukman Hakim salah satu manager Singapore Airline saat itu yang membutuhkan ikan (racuk) sebanyak 20 ton perhari untuk kebutuhan pasar kuala lumpur dan sekitasnya. Mereka siap investasi sampai pembangunan cool storage pun mereka siap. Nah bila Bengkulu Selatan punya pelabuhan yang cukup bagus tentu bisa memenuhi permintaan mereka 20 ton per hari itu, apalagi lapangan terbang Ex jepang di padang panjang bisa kita jadikan landasan pacu untuk pesawat cargo kecil yang langsung bisa export hasil laut ke luar negeri. (siapapun jadi pemimpin saya siap untuk membantu mewujudkan hal ini).
Para pembaca Rasel yang budiman.
KETIGA ; Kawan-kawan dikusi saya mengatakan jangan menunggu jadi bupati dulu berbuat untuk daerah, mulai saja dari sekarang (hehehe.... luar biasa kritik dan tantangan mereka). Sesungguhnya saya sudah memulai ini sejak beberapa tahun yang lalu. Saya ingat saya pernah kirim surat kepada Bupati Iskandar Dayok untuk investasi Pembangkit listri tenaga air di sungai luas kaur dan kita (konsorsium) sudah siap uang Rp. 200 M dan sampai saat ini surat itu hanya ditanggapi melalui telepon oleh Kabag Pembangunan waktu itu tanpa tindak lanjut nyata seperti mengundang kita. Sehingga uang Rp. 200 M di investasikan di Indonesia timur dengan membangun pembangkit listrik tenaga angin. Dan untuk saat ini semua yang saya uraikan diatas bisa segera dilaksanakan bila pemerintah mau berkerja sama dengan kita saya jaminanannya bahwa yang saya katakan di atas bisa dilaksanakan segera bila pemerintah mau, tapi dengan catatan belum tentu para investor percaya dengan pemimpin daerah kita kalau tidak ada jaminan dari orang yang mereka percaya. Untuk lebih detailnya masalah TKI Center, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) saya akan uraikan dalam tulisan berikutnya. Nah kalau pertanyaannya Kapan harus dimulai ? Saya katakan “Seorang pemimpin harus sudah menyiapkan dirinya dengan segenap langkah yang bisa dipertanggunjawabkan dan diwujudkan untuk mngatasi masalah yang ada jauh sebelum ia menjadi seorang pemimpin” Pembaca Budiman Seorang Pemimpin Bijaksana siap berada dalam lingkaran kekuasaan dan siap juga berada diluar kekuasaan namun selalu siap untuk berbuat, maaf ! saya memang belum bisa berbuat banyak untuk daerah kita, namun saya siap menjadi mitra pemimpin Bengkulu Selatan nantinya bila saya bukan pemimpinnya. Semoga ada manfaatnya untuk pemimpin. Janji Nunggu Katau Betarua (penulis adalah alumi FE UNIB.silahkan kunjungi www.gusnan-mulyadi.blogspot.com).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar